Sabtu, 08 April 2017

Laporan PraktikumPengolahan Pangan: Penepungan

PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil pengamtan yang dilakukan pada sampel singkong yang direndam dengan Na2S2O5 didapat bahwa berat produk adalah sebesar 21,03 gram dan persen produk 29,8% dengan basis 70 gram. Pada sampel tepung ini diamati bahwa tepung tersebut berwarna putih sedikit kuning, dengan rasa tawar, aroma khas tepung singkong, tekstur yang halus dan kenampakan yang menarik.
Berdasarkan hasil pengamtan yang dilakukan pada sampel singkong yang di blanching didapat bahwa berat produk adalah sebesar 20,6 gram dan persen produk 28,86% dengan basis 70 gram. Pada sampel tepung ini diamati bahwa tepung tersebut berwarna putih kekuningan, dengan rasa tawar, aroma khas tepung singkong, tekstur yang sedikit kasar dan kenampakan yang menarik.
Berdasarkan hasil pengamtan yang dilakukan pada sampel singkong yang direndam dengan air biasa didapat bahwa berat produk adalah sebesar 21,85 gram dan persen produk 31,2% dengan basis 70 gram. Pada sampel tepung ini diamati bahwa tepung tersebut berwarna putih pucat, dengan rasa tawar, aroma khas tepung singkong, tekstur yang halus dan kenampakan yang menarik.
Sortasi (pemilihan) dilakukan untuk memilih singkong yang benar-benar
baik dari segi fisik, dan mulu (tidak cacat). Jika singkong cacat atau busuk, maka tepung yang dihasilkan tidak bagus. Setelah dilakukan sortasi bahan, kemudian dilakukan proses trimming yaitu pembersihan singkong dari kotoran dan bagian yang tidak diperlukan lainnya. Kemudian dilakukan pencucian dengan air agar bahan terbebas dari kotoran yang menempel pada singkong. Pemarutan atau reduksi ukuran dilakukan setelah pencucian, dimana menurut Brennan (1969) reduksi ukuran adalah pemecahan bahan menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, dimana proses pengecilan ukuran merupakan suatu proses yang penting dalam industri pangan. Tujuan reduksi ukuran adalah untuk memperbesar luas permukaan bahan sehingga membantu dan memperlancar proses. Dalam hal ini, mempercepat waktu pengeringan bahan dan mempercepat proses blanching. Kemudian dilakukan penirisan untuk mengurangi kadar air akibat pencucian. Pengeringan merupakan proses selanjutnya, dimana tujuan pengeringan yaitu mengurangi kadar air dalam bahan pangan hingga batas tertentu. Selanjutnya penggilingan dilakukan untuk mengecilkan kentang yang telah dikeringkan sehingga menjadi bentuk serbuk. Dan selanjutnya dilakukan pengayakan yang bertujuan untuk memisahkan granula kasar dan granula halus.
Perendaman dengan Na2S2O5 untuk memucatkan tepung sehingga dapat mencegah karusakan pada warna bahan akibat pengeringan (Brennan, 1969).
Fungsi bahan yang digunakan dalam pengolahan penepungan yaitu singkong sebagai sampel, Na2S2O5 merupakan salah satu bahan tambahan makanan yang cukup efektif dan sering digunakan untuk mempertahankan mutu dan mengawetkan produk yang dihasilkan selama pengolahan dan penyimpanan bahan pangan nabati seperti buah-buahan dan sayuran (Brennan, 1969). Air biasa digunakan sebagai salah satu perlakukan dalam pengolahan singkong menjadi tepung.
Natrium metabisulfit merupakan salah satu pengawet makanan anorganik. Senyawa yang memiliki penampakan kristal atau bubuk berwarna putih ini bersifat mudah larut dan sedikit larut dalam alkohol. Sodium metabisulfit memiliki berat molekul 190,12. Densitas kamba senyawa ini adalah 1,2 – 1,3 kg/l dan titik leburnya 150°C. padatan sodium metabisulfit yang dilarutkan sebanyak 20% akan tampak berwarna kuning pucat hingga jernih. Natrium metabisulfit sebaiknya disimpan di tempat yang sejuk dalam wadah tertutup rapat dan di area berventilasi baik, karena senyawa ini sensitive terhadap kelembaban (Wikipedia, 2015).
Pengeringan merupakan metode pengawetan bahan pangan dengan menurunkan kadar air. Secara tradisional, bahan pangan dikeringkan dengan sinar matahari tetapi saat ini beberapa bahan pangan didehidrasi di bawah kondisi penngeringan yang terkendali dengan menggunakan aneka ragam metoda pengeringan (Buckle, 1987).
Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan pengeringan yaitu:
a.       Sifat Bahan, yang dikeringkan merupakan faktor utama yang mempengaruhi kecepatan pengeringan. Jika dua bahan pangan dengan ukuran dan bentuk yang sama dikeringkan pada kondisi yang sama, kedua potongan tersebut akan kehilangan air dengan kecepatan yang sama pada awal pengeringan. Komposisi kimia dan struktur fisik bahan pangan berpengaruh terhadap tekanan uap air dalam keseimbangan dan difusifitas air dalam bahan tersebut pada suhu tertentu.
b.      Ukuran. Kecepatan pengeringan dari sebuah lempengan basah yang tipis berbanding terbalik dengan kuadrat ketebalannya, jadi jika potongan bahan pangan dengan tebal satu pertiga dari semula dikeringkan akan mengalami pengeringan yang sama dengan kecepatan sembilan kali kecepatan asalnya. Peristiwa ini terjadi pada kondisi dimana resistensi internal terhadap pergerakan air jauh lebih besar daripada resistensi permukaan terhadap penguapan. Oleh karena itu waktu pengeringan dapat dipersingkat dengan pengurangan ukuran bahan yang dikeringkan. Keadaan ini diterapkan pada spary dryer dimana diameter partikel atau penyompratan hanya beberapa micron.
c.       Unit Pemuatan. Beberapa hal penambahan muatan bahan basah pada rak pengeringan dengan meningkatkan ketebalan potongan bahan, sehingga akan mengurangi kecepatan dari pengeringan. Perbedaan rasio dengan luas permukaan akan menurun selama pengeringan berlangsung karena penyusutan volume. Struktur lapisan pada rak akan lebih terbuka dan lebih tipis sehingga pengeringan terjadi pada seluruh lapisan. Kapasitas pengeringan rak, yaitu berat basah yang dapat dikeringkan persatuan waktu naik dari nol pada waktu tanpa muatan sampai maksimum pada satuan muatan intermedit.
d.      Despresi Bola Basah, yaitu perbedaan suhu udara (suhu bola kering) dengan suhu bola basah, merupakan faktor eksternal paling penting dalam pengeringan. Jika depresi bola basah udara yang melewati bahan nol, berarti udara jenuh dan tidak akan terjadi pengeringan. Jika depresi bola basah besar, maka potensial pengeringan tinggi dan kecepatan pengeringan pada tahap awal maksimum.
e.       Suhu Udara. Jika depresi bola basah dijaga konstan pada berbagai suhu bola basah, kecepatan pengeringan tahap awal hampir sama. Pada tahap selanjutnya, kecepatan akan bertambah tinggi pada suhu udara yang lebih tinggi karena pada kadar air yang rendah pengaruh penguapan terhadap pendinginan udara dapat diabaikan dan pada suhu bahan mendekati suhu udara. Distribusi air dalam bahan yang mempengaruhi kecepatan pengeringan pada tahap ini akan bertambah cepat dengan meningkat suhu pengeringan.
f.       Kecepatan Aliran Udara. Laju pengeringan bahan seperti halnya pada penguapan dari permukaan air tergantung kecepatan udara yang melewati bahan. Pengaruh perbedaan kecepatan sangan nyata pada kecepatan udara beberapa ratus kaki per menit. Peningkatan kecepatan udara pada kisaran 1000 kaki per menit kecil pengaruhnya terhadap laju pengeringan (Wirakartakusumah, 1992).
Proses blanching merupakan pemanasan pendahuluan yang lazim dilakukan terhadap bahan pangan sebelum proses pengeringan. Tujuan perlakuan ini antara lain agar udara yang terdapat dalam jaringan keluar, menginaktifkan enzim-enzim phenol oksidase, menghilangkan baud an flavor yang tidak dikehendaki, mempertahankan warna. Pada umumnya, blanching untuk tujuan komersial dilakukan pada suhu 100°C dengan waktu berbeda-beda tergantung jenis bahan, dan pada umumnya 3-5 menit. Media pemanasan yang biasa digunakan pada proses blanching yaitu air, uap panas atau udara panas (Anonim, 2012).
Tepung merupakan salah satu produk hasil pengolahan dengan menggunakan proses pengeringan sebelum atau sesudah bahan tersebut di hancurkan. Proses pembuatan tepung pada umumnya bertujuan untuk mengatasi berbagai jenis kerusakan yang sering terjadi sewaktu bahan tersebut masih dalam keadaan segar. Selain itu bahan pangan yang berbentuk tepung lebih efisien dan efektif dalam hal pengemasan dan transportasinya, karena volume bahannya menjadi lebih kecil dan dapat memperpanjang masa simpannya (Winarno, 1992).
Menurut Desrosier (1988), proses pengeringan pada suatu bahan pangan pada umumnya dapat mengakibatkan perubahan sifat fisika dan kimianya. Warna, aroma, tekstur, dan penampakan merupakan salah satu kriteria penilaian yang sangat berpengaruh terhadap kualitas tepung kentang selain nilai gizinya, sehingga perlu dicari kondisi pengeringan yang optimum terhadap sifat karakteristik tepung kentang. Standar ukuran partikel bahan yang berbentuk tepung yaitu 100  mesh, sedangkan untuk ukuran partikel bahan yang berbentuk serbuk atau bubuk yaitu berkisar antara 60-80 mesh. Kadar air yang masih tinggi pada produk tepung adalah merupakan penyebab utama terjadinya proses kerusakan pada tepung. Hal ini dapat diketahui dengan bersatunya partikel antara butiran tepung yang ditandai dengan terjadinya proses penggumpalan. Kadar air yang sesuai untuk tepung yaitu berkisar antara 4-11% (Dep.Kes.RI, 1989).
Case hardening adalah suatu migrasi zat pelarut ke permukaan yang menyebabkan lapisan permukaan Nampak kering, sedangkan bagian dalam bahan masih sangat basah (Wirakartakusumah, 1992).
Faktor-faktor yang mempengaruhi waktu blanching ­yaitu tipe dari buah-buahan dan sayuran, besarnya ukuran potongan makanan, temperratur blanching, metode pemanasan (Anonim, 2012).
Pengeringan dapat berlangsung apabila ada energi panas yang diberikan pada bahan yang akan dikeringkan, juga aliran udara yang berfungsi untuk mengalirkan uap air yang terbentuk supaya cepat keluar dari daerah pengeringan, pengeluaran uap air dapat pula dilakukan secara vakum. Pengeringan dapat dilakukan dengan baik jika pemanasan terjadi secara merata atau menyebar pada setiap tempat dari bahan pengeringan diantaranya adalah luas permukaan bahan, suhu pengeringan, aliran udara, tekanan uap di udara, dan lama pengeringan (Anonim, 2014).
Indeks glikemil berhubungan dengan karbohidrat, karena kentang merupakan salah satu karbohidrat. Indeks glikemik merupakan tingkatan pangan menurut efeknya (immediate effect) terhadap kadar gula darah. Pangan yang menaikkan gula darah dengan cepat, memiliki indeks glikemik tinggi, sebaliknya yang dapat menaikkan gula darah lambat memiliki indeks glikemik rendah. Indeks glikemik glukosa murni dijadikan sebagai pembandingnya dimana nilai indeks glikemik glukosa murni adalah 100 (Rimbawa dan Siagin, 2004).
Indeks glikemik juga dapat didefinisikan sebagai rasio antara luas kurva respon glukosa makanan yang mengandung karbohidrat total setara dengan 50 gram gula terhadap luas kurva respon glukosa setelah 50 gram gula glukosa pada hari yang berbeda dan pada orang yang sama. Kedua test tersebut dilakukan pada pagi hari setelah puasa 10 jam dan penentuan (nilai 100) dan nilai makanan yang diuji merupakan persen terhadap standar tersebut (Truswell, 1992).
Berdasarkan hasil pengamatan di atas, jika dibandingkan dengan SNI, kualitas tepung yang direndam dengan air biasa mempunyai mutu yang baik, karena bau, rasa, dan warna sesuai dengan SNI. Tepung yang direndam dengan Na2S2O5 mempunyai baud an rasa yang sesuai dengan SNI, hanya tepung yang direndam dengan Na2S2O5 berwarna putih gading. Dan tepung yang di blanching mempunyai bau dan warna sesuai dengan SNI hanya rasa tepung tawar.
CCP (Critical Control Point) atau titik pengendalian kritis didefinisikan sebagai sebuah tahapan dimana pengendalian dapat dilakukan dan sangat penting untuk mencegah atau menghilangkan potensi untuk bahaya terhadap keamanan pangan atau menguranginya hingga ke tingkat yang dapat diterima. Dengan kata lain CCP adalah suatu titik, prosedur atau tahapan dimana akan terlewatnya pengendalian dapat mengakibatkan resiko yang tidak dapat diterima terhadap keamanan produk. Dengan demikian CCP dapat dan harus diawasi (Anonim, 2012).
            CCP pada proses pembuatan tepung dari singkong yaitu pemilihan metode untuk mencegah pencoklatan, dimana dengan menggunakan perendaman menggunkan natrium metabisulfit hasilkan akan lebih baik. Selain itu pada proses pengeringan, dimana suhu yang terlalu rendah tidak dapat mengeringkan bahan secara optimun, dan jika terlalu tinggi bahan yang dikeringkan akan menjadi rusak, oleh karena itu sangat penting dalam menentukan suhu yang tepat dalam proses pengeringan. Yang terakhir CCP nya terletak pada proses pengayakan, dimana menggunakan ayakan yang salah tidak akan dihasilkan produk tepung yang halus.


KESIMPULAN DAN SARAN
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengamtan yang dilakukan pada sampel singkong yang direndam dengan Na2S2O5 didapat bahwa berat produk adalah sebesar 21,03 gram dan persen produk 29,8% dengan basis 70 gram. Pada sampel tepung ini diamati bahwa tepung tersebut berwarna putih sedikit kuning, dengan rasa tawar, aroma khas tepung singkong, tekstur yang halus dan kenampakan yang menarik.
Berdasarkan hasil pengamtan yang dilakukan pada sampel singkong yang di blanching didapat bahwa berat produk adalah sebesar 20,6 gram dan persen produk 28,86% dengan basis 70 gram. Pada sampel tepung ini diamati bahwa tepung tersebut berwarna putih kekuningan, dengan rasa tawar, aroma khas tepung singkong, tekstur yang sedikit kasar dan kenampakan yang menarik.
Berdasarkan hasil pengamtan yang dilakukan pada sampel singkong yang direndam dengan air biasa didapat bahwa berat produk adalah sebesar 21,85 gram dan persen produk 31,2% dengan basis 70 gram. Pada sampel tepung ini diamati bahwa tepung tersebut berwarna putih pucat, dengan rasa tawar, aroma khas tepung singkong, tekstur yang halus dan kenampakan yang menarik.
SARAN
Saran untuk praktikum selanjutnya praktikan harus lebih memahami praktikum yang akan dilakukan, dengan cara belajar terlebih dahulu sebelum melakukan praktikum. Dan seharusnya setiap perlakuan yang dilakukan hendaknya dilakukan dengan tepat.

1 komentar: